Ketika korupsi menyeruak di negeri ini, banyak pengamat menilai, bahwa
semua yang terjadi merupakan efek budaya demokrasi liberal. Mungkin
pengamat ini menakar, karena didalam azas demokrasi liberal, memberikan
ruang kebebasan yang berlebihan bagi seseorang untuk bereksperimentasi
politik secara luas dan bebas. Dalam kata lain 'liar' dan menabrak batas-batas konstitusi.
Tapi benarkah bahwa kondisi budaya yang melilit sistem birokrasi yang
oligarkis dan koruptif itu memang sepenuhnya karena akibat hasil proses
demokrasi yang liar ?. Tapi yang jelas, apapun sistem politik yang
berlaku dalam budaya kita, akan berhenti dalam area prosedur dan
mekanisme politik semata. Karena pada gilirannya, sistem politik
tersebut hanya akan menjadi subsistem tradisi kekuasaan priyayi yang
cenderung feodal, subyektif, dan berperilaku otonom tanpa batas.
Dan biasanya, ketika warisan tradisi priyayi ini telah menjadi tirani
meta-budaya kekuasaan demokratis, kehadiran peraturan negara untuk
mengelola kewenangan kekuasaan akan selalu dianggap relatif dan sering
dipersalahkan. Karena bagi mereka, prinsip dan argumentasi subyektif,
dianggap lebih benar ketimbang perundang- undangan negara. Padahal yang
sesungguhnya, negara memberikan batasan normatif akuntabilitas pejabat
pemerintah dalam menjalankan kekuasaan.
Dalam 'modus operandi'
fragmentasi kekuasaan priyayi ini, biasanya para penguasa akan menggeser
budaya demokrasi sosial egaliter menjadi domestikasi kepatuhan tunggal.
Sekalipun kekuasaan substruktur yang dibangun, tidak lain hanyalah
potret distribusi kekuatan lokalitas personal tersebut. Caranya, mereka
akan meminggirkan kekuatan primordial yang dianggap resisten. Modus
lainnya, mereka akan melancarkan intimidasi pada seluruh komponen
kritis, atau setidaknya mereka akan melakukan negosiasi pragmatis.
Karena mereka tahu, didalam kekuatan kritis, juga terdapat anomali
mental opportunis.
Sehingga dapat dipastikan, sikap kekuasaan
'priyayisme' akan selalu menolak pergeseran budaya peguyuban menuju
patembayan. Karena bagi mereka, budaya paguyuban dianggap representatif
untuk memobilisir seluruh skenario kekuasaannya. Sementara budaya
patembayan yang egaliter dan kritis dalam menilai berbagai perilaku dan
kebijakan penguasa akan ditabukan. Untuk itu, mereka akan bertaruh
dengan apapun dalam mempertahankan budaya paguyuban ini demi
mengamankan kekuasaan. Karena dalam budaya sosial paguyuban sudah ada
diktum sosial, 'sendiko dawuh gusti ratu'.***
No comments:
Post a Comment