Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten, puteri dari Tubagus Chasan Shohib, seorang tokoh ternamaJawara Banten, bagaikan mitologis Srikandi dalam narasi pewayangan. Bedanya, kalau Sriikandi, populer bukan karena cekal KPK, sementara Ratu Atut, yang sebenarnya sudah populer, dan lebih populer lagi karena 'jurus mabuk' KPK.
Sosok perempuan, yang juga merupakan pewaris tahta Jawara Banten ini, adalah representasi kekuatan budaya politik Jawa pasundan modern. Peran Sang Ratu selain piawai memainkan kolaborasi kultur domestik, antara pengaruh jawara dan ulama Islam lokal, juga mampu mengkombinaaikan dengan kekuatan struktur kepartaian politik Sehingga lahirlah Sang Ratu dalam alam budaya politik mitis, yang mampu memperkokoh kembali patron klan menjadi dinasti kekuasaan.
Kehadiran sang ratu tidak saja mampu memobilisasi dukungan politik kelas sosial menengah bawah, mungkin saja karena pengaruh hikayat pewaris jawara, tapi sang ratu juga mampu menguasai kekuatan sosial elit, yang berupa dukungan politik pragmatis. Kepandaian keluarga sang ratu merumuskan strategi politik dinasti ini, seolah menancapkan potret baru struktur politik kerajaan ditengah budaya demokrasi. Sebuah kekuatan kuasa atas harkat modal kapitalisasi politik. Harkat kuasa ini sendiri menjadi metamorfosis perselingkuhan budaya kesemuan demokrasi politik dan arogansi ekonomi.
Tentunya, dalam kajian mitologi sosial feminisme jawa sunda, perilaku politik Ratu Atut berseberangan dan bahkan berlawanan dengan spirit etik politik Ratu Shima, yang adil bijaksana. Tapi dalam referensi sosial mistik jawa, sang ratu lebih menyerupai Nyi Loro Kidul. Padahal kalau sang ratu memilih peran Nyi Loro Kidul, harusnya cukup menjadi 'the man behind goverment' saja. Apalagi sang ratu juga sudah tahu, kalau warna politik personalnya sudah melampaui konflik figurasi kultural para tokoh Kasunyatan Serang Banten yang merakyat, misal Sutan Yusuf Serang. Sebaliknya, ditangan sang ratu, legenda kedigdayaan para jawara itu menjadi abstrak dan hanya menjelma menjadi pemberi pusaka kuasa semata. Peristiwa politik ini tentu menggeser moral budaya struktur kaum sufi dan jawara, yang egaliter dan mencintai rakyat.
Tapi apapun kenyataannya, sang ratu telah memaksakan turun gunung untuk menjelma jadi penguasa dinasti politik,. Mungkin saja, moral hazard yang dilakoni dinasti sang ratu telah menyinggung para arwah guru spiritual kaum jawara dan ulama Banten, sehingga menjadi balak huru hara politik. Sekarang sang ratu menghadapi demitologi budaya politik klan. Maka sang ratu pasti akan melakukan ruwatan melalui sesajen strategi politik untuk menaklukan kembali sistem demokrasi.
Tanpa disadari, sekarang sang ratu sedang menghadapi kekuatan struktur demokrasi lain diluar partai politik. Mereka itu adalah kekuatan sipil dan KPK. Para jawara KPK bersama masyarakat sipil akan menghadapi pewaris trah jawara Banten. Sementara Ratu Shimah sudah enggan ngurusi Sang Ratu Atut, maka tinggal Nyi Loro Kidul, masihkah sudi dia menjadi 'the spirit behind the power'?. Tunggu saja.***
No comments:
Post a Comment