Sorak sorai kumandang lagu kebangsaan Indoneaia Raya, yang dibalut
kibar bentang Merah Putih, serta syair-syair agitasi kemenangan, seakan
menandai monumen kemenangan Timnas Garuda Muda dalam puncak final Piala
AFF 2013. Memang ini sebuah penantian panjang bagi pecinta nasionalisme
bola, hampir 22 tahun, untuk menorehkan sejarah baru kemenangan,
sejarah deklarasi 'kedaulatan' atas hegemoni keunggulan bangsa lain.
Dalam konteks kebangsaan yang majemuk, dengan kenyataan strata sosial
yang beragam, membangun sebuah perekatan identitas kebangsaan menjadi
barang mahal. Apalagi, ditengah kehidupan budaya sosial yang serba
instan, yang selalu menyuguhkan 'pernikahan siri' aneka ragam kenikmatan
ekonomi dengan kekuasaan politik. Kenyataan ini, tidak saja melahirkan
'anak tiri' kebudayaan, tapi juga melahirkan kesenjangan struktur sosial
antar anak bangsa.
Maka kemenangan Timnas Sepak Bola Garuda
Muda U-19 dalam ajang AFF semalam, jangan hanya diapresiasi pada batas
pejorasi budaya euforistik semata. Tetapi sebaliknya, kita harus
memperluas daya baca untuk memahami spirit perjuangan mereka dalam
menumbangkan hegemoni, untuk meneguhkan kedaulatan baru merah putih.
Karena faktanya, imajinasi, harapan, dan kenyataan kemenangan, telah
mampu memeberikan arah pergeseran eksperesi budaya publik dalam
meneguhkan identitas kebangsaan.
Problem perekatan
nasionalisme bola tadi, tentu akan berbeda dengan persoalan nasionalisme
ekonomi dan dunia politik kita. Kekuatan spirit daya juang anak muda
yang tergabung dalam Timnas tersebut, merfleksikan penegasan
'perlawanan' hegemoni bangsa lain. Sementara dalam realitas dunia
ekonomi dan politik, lebih banyak menyuguhkan atraksi nasionalisme semu,
yang keluar dari hakekat kedaulatan rakyat. Kebanyakan kaum ekonom akan
mengilustrasikan nasionaliame pada hukum distribusi dan konstribusi
kapital. Sedangkan politisi, pola nasionalismenya akan berprinsip pada
hukum modal kekuasaan. Selanjutnya, terjadilah perkawiinan silang,
menuju kolaborasi prinsip nasionalisme hedonis.
Maka belajar
dari spirit heroik nasionalisme bola Timnas U-19, seakan mengajak kita
untuk memahami prinsip perubahan dalam kesejatian eksistensi bangsa.
Integrasi tanpa batas yang dibangun dari sendi kemandirian, berpegang
teguh pada integritas personal, menjadi jawaban untuk merebut kembali
kedaulatan bangsa. Karena bagaimanapun, kenyataan globalisme, ditengah
serunya kompetisi keungulan antar bangsa, akan sangat ditentukan oleh
kemampuan diri dalam memaknai dan mengimplementasikan prinsip kedaulatan
bangsa atas negara.***
No comments:
Post a Comment