Wednesday, October 23, 2013

NASIONALISME HEDONESIA

Sorak sorai kumandang lagu kebangsaan Indoneaia Raya, yang dibalut kibar bentang Merah Putih, serta syair-syair agitasi kemenangan, seakan menandai monumen kemenangan Timnas Garuda Muda dalam puncak final Piala AFF 2013. Memang ini sebuah penantian panjang bagi pecinta nasionalisme bola, hampir 22 tahun, untuk menorehkan sejarah baru kemenangan, sejarah deklarasi 'kedaulatan' atas hegemoni keunggulan bangsa lain.

Dalam konteks kebangsaan yang majemuk, dengan kenyataan strata sosial yang beragam, membangun sebuah perekatan identitas kebangsaan menjadi barang mahal. Apalagi, ditengah kehidupan budaya sosial yang serba instan, yang selalu menyuguhkan 'pernikahan siri' aneka ragam kenikmatan ekonomi dengan kekuasaan politik. Kenyataan ini, tidak saja melahirkan 'anak tiri' kebudayaan, tapi juga melahirkan kesenjangan struktur sosial antar anak bangsa.

Maka kemenangan Timnas Sepak Bola Garuda Muda U-19 dalam ajang AFF semalam, jangan hanya diapresiasi pada batas pejorasi budaya euforistik semata. Tetapi sebaliknya, kita harus memperluas daya baca untuk memahami spirit perjuangan mereka dalam menumbangkan hegemoni, untuk meneguhkan kedaulatan baru merah putih. Karena faktanya, imajinasi, harapan, dan kenyataan kemenangan, telah mampu memeberikan arah pergeseran eksperesi budaya publik dalam meneguhkan identitas kebangsaan.

Problem perekatan nasionalisme bola tadi, tentu akan berbeda dengan persoalan nasionalisme ekonomi dan dunia politik kita. Kekuatan spirit daya juang anak muda yang tergabung dalam Timnas tersebut, merfleksikan penegasan 'perlawanan' hegemoni bangsa lain. Sementara dalam realitas dunia ekonomi dan politik, lebih banyak menyuguhkan atraksi nasionalisme semu, yang keluar dari hakekat kedaulatan rakyat. Kebanyakan kaum ekonom akan mengilustrasikan nasionaliame pada hukum distribusi dan konstribusi kapital. Sedangkan politisi, pola nasionalismenya akan berprinsip pada hukum modal kekuasaan. Selanjutnya, terjadilah perkawiinan silang, menuju kolaborasi prinsip nasionalisme hedonis.

Maka belajar dari spirit heroik nasionalisme bola Timnas U-19, seakan mengajak kita untuk memahami prinsip perubahan dalam kesejatian eksistensi bangsa. Integrasi tanpa batas yang dibangun dari sendi kemandirian, berpegang teguh pada integritas personal, menjadi jawaban untuk merebut kembali kedaulatan bangsa. Karena bagaimanapun, kenyataan globalisme, ditengah serunya kompetisi keungulan antar bangsa, akan sangat ditentukan oleh kemampuan diri dalam memaknai dan mengimplementasikan prinsip kedaulatan bangsa atas negara.***

No comments:

Post a Comment