Kalau kita lihat sekilas, sosok Jokowi hanyalah potret pribadi yang
lugu, apa adanya, tanpa memiliki hasrat kekuasaan politik. Tapi jika
kita jeli membaca simbol-simbol perilaku budaya politik yang melekat
pada diri Jokowi, dia itu memiliki dimensi keluasan spiritual politik,
yang kaya akan makna metalogik adat kebudayaan para raja jawa.
Ilustrasi diatas
akan menggambarkan peristiwa pada awal Bulan Desember nanti, dimana
Jokowi berencana menghelat acara fenomenal yang bertajuk 'World Heritage
Festival' di Jakarta. Dalam prosesi acara itu, Jokowi akan mengundang
raja dan ratu dari seluruh penjuru dunia, termasuk rencananya mengundang
pewaris kerajaan Inggris. Boleh jadi, dalam festival internasional
ini, Jokowi akan mengemas dalam tajuk apresiasi warisan kebudayaan.
Tetapi sejatinya, dalam suluk ajaran kesejatian tradisi jawa, yang
merupakan entitas spiritual Jokowi, akan memiliki makna lakon politik
tersendiri dalam mentransformasikan kederajatan diri diantara pamor para
raja untuk memberikan berkah kekuasaan.
Karena dalam pakem
mitos budaya jawa, seorang punggawa seperti Jokowi, yang tidak memiliki
silsilah keturunan raja, itu akan sulit menapaki tingkatan derajat
menjadi raja, jika tanpa melalui prosedur yang absah, dan mendapat
legitimasi dari para pemilik keturunan darah biru, atau pewaris para
raja itu sendiri. Dalam struktur budaya jawa, meruwat derajat raja itu
bisa melalui unsur perkawinan, atau melalui pemberian pusaka kekuasaan.
Kisah ini pernah diceritakan dalam 'Serat Dewaruci', adanya wahyu
'maningrat', penyebar keratuan, 'cakraningrat', penjaga kedudukan, dan
'widayat', pelanggeng kekuasaan. Begitu juga dalam kisah Mahabarata,
yang mewariskan kekuatan 'jimat kalimashadha', yang merupakan legitimasi
untuk menaklukan penguasa dalam berebut kekuasaan.
Kalau kita
baca konteks World Herittage Festival ini dengan fenomena politik
Jokowi, secara implisit seakan menegaskan, sebuah korelasi kebudayaan
yang merajut pada kederajatan personal Jokowi untuk menghadapi
kontestasi politik pemilihan presiden mendatang. Karena bagaimanapun,
dalam prosesi ruwatan ini bisa saja memiliki makna 'maningrat',
transformasi penyebar keratuan pada diri Jokowi, dalam menaklukkan
egosentrisme kekuasaan dinasti Soekarno di internal PDIP. Bahkan lebih
luas, ruwatan budaya yang dibalut dalam World Heritage Featival ini juga
untuk menjaga eksistensi politik Jokowi dalam mencapai 'cakraningrat'
maupun 'widayat'.
Jika fakta budaya politik ini yang terjadi,
laku sosok Jokowi bukanlah orang yang lugu dan sederhana dalam
pengertian matetial, melainkan Jokowi menggunakan ilmu laku politik,
yang menjelajah esensi spiritual budaya jawa. Tidak cukup disitu, Jokowi
sebentar lagi juga akan menjangkau kosmologi pengetahuan spiritual
sangkan paran para raja sejagad untuk menisbatkan warisan kekuasaan.
Maka kalau ingin menaklukan kekuatan Jokowi, akan sangat tergantung
upaya konspirasi lawan politik Jokowi dengan para resi, sang mahaguru,
untuk menarik kembali kekuatan 'Dewaruci' yang sedang dalam genggaman
Jokowi. Kalau upaya itu tidak bisa, maka Jokowi itu hanya bisa
dikalahkan dengan Kalimashadha. Tapi maslahnya, siapa pemilik
Kqlimashadha itu?.***
No comments:
Post a Comment