Kemarin pagi, para ulama' se Jawa dan Madura telah berkumpul di Pondok
Pesantren Darul Ulum Jombang. Pertemuan yang melibatkan Mahfud MD itu,
tidak lain adalah membahas peta politik pencalonan Mahfud sebagai calon
presiden mendatang.
Apakah pertemuan Mahfud dengan para kyai
ini membahas secara khusus hasil pertemuan Mahfud dengan Ketua Umum
PDIP, Megawati Soekarno Putri, beberapa
waktu yang lalu?, atau hanya sekedar pertemuan biasa yang akhir-akhir
ini sering dilakukan untuk membahas perhelatan politik nasional?. Tapi
konon kabarnya, memang dalam pertemuan tertutup itu, ada pembahasan
khusus mengenai kemungkinan komposisi pencapresan Jokowi dengan Mahfud
MD. Kalau begitu, berarti ada pendalaman pembahasan hasil pertemuan
Mahfud dengan Megawati sebelumnya, yang mengarah pada wacana komposisi
politik ideologi, nasionalis dan Islam.
Memang kalau kita baca
secara struktural, posisi politik Jokowi maupun Mahfud itu sama, hanya
mengandalkan kekuatan politik figur personal. Keduanya hanya bagaian
dari subordinat, bukan pemilik otoritas utama struktur partai politik.
Tapi karena faktor integritas, mereka memiliki elektoral publik yang
memadai. Dan yang menarik dari perilaku budaya politik kedua tokoh ini
adalah, mereka memiliki segmentasi basis politik tradisional sebagai
kekuatan elementer penopang daya politik mereka. Kalau Jokowi berada
dalam pusaran identitas ideologi politik 'wong cilik', sementara Mahfud
sendiri, berada dalam entitas struktur politik Islam tradisional,
struktur santri dan kyai.
Terlepas dari proses dinamika
modernisasi politik yang terjadi, yang akan selalu mengalami pasang
surut dalam menentukan struktur kekuasaan, tetapi kehadiran Jokowi dan
Mahfud, seakan menggambarkan kesadaran baru sejarah dinamika budaya
politik kebangsaan itu sendiri. Karena bagaimanapun, sejarah politik
nusantara ini, pernah dibangun oleh sistem kekuasaan yang memiliki
keunggulan ideologi kerakyatan yang bersifat terbuka. Sementara Islam,
juga pernah melakukan transisi politik yang berujung pada pembentukan
sistem budaya negara demokrasi, yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan
yang beragam, pluralisme. Bahkan budaya pluralisme ini yang tetap hidup
hingga saat ini. Jadi meskipun sosial islam itu mayoritas, tapi tetap
tidak tertarik dengan partai bebasis islam, dan cenderung lebih memilih
partai politik berhakuan nasionalis.
Meskipun demikian, dalam
realitas komposisi struktur kskuasaan, kekuatan politik struktur sosial
Islam akan selalu menjadi komplementer integrasi kebangsaan. Maka boleh
jadi, hasil dari komunikasi politik Mahfud dengan Megawati, dan konvensi
kultural Mahfud dengan para kyai itu, tidak sekedar membahas kekuasaan
politik semata, tapi secara kualitatif, juga melakukan elaborasi etika
kebangsaan, yang meletakkan kembali hakekat struktur budaya politik,
yang bercorak nasionalis dan Islam, sebagai bentuk penegasan
mengembalikan wujud kedaulatan budaya bangsa dan negara, yang selama ini
sudah dibajak oleh kekuasaan para mafia, yang mengatasnamakan
kepentingan ekonomi, yang berubah wajah menjadi kartel bisnis dan
oligarkhi ekonomi.***
No comments:
Post a Comment