Monday, September 30, 2013

RESONANSI RADIKALISASI ISLAM PESISIR

Tulisan ini merupakan hasil dari penjelajahan terhadap embrio gerakan radikal islam pesisir. sebagai bagian dari pemahaman istilah resonansi, tidak saja melihat mereka dari aspek dinamika budaya secara abstrak, tatapi juga mencoba menelusuri mozaik relasi struktural sel islam radikal dalam memaknai gerakan perubahan budaya ditengah institusi negara.

Ada tiga persoalan yang mengemuka, yang menjadi topik gerakan keislaman meraka. Pertama, persoalan implementasi dakwah, amar makruf nahi munkar. Kedua, masalah gagasan perwujudan sosial syariah. Ketiga, masalah daulat, atau sistem negara, islam versus sekuler. Meskipun terdapat tiga masalah dalam gerakan tersebut, tetapi intensitas gerakan mereka lebih tertuju pada pencapaian sistem sosial syariah, yang dianggap menjadi keharusan transendental dan bersifat absolut dalam realitas negara.

Maka potret sosial yang nampak dari gerakan radikal islam pesisir saat ini, adalah tumbuh dari embrio teologis yang ingin menghadirkan wajah islam syariah. Dalam kenyataan ini, tidak saja mereka menghadang laju sekularitas budaya, tetapi mereka juga akan mengabaikan hukum negara yang dianggap bagaian dari produk hukum 'thoghut', termasuk juga terhadap struktur negara itu sendiri. Karena bagaimanapun, negara sudah diasosiasikan keluar dari determinasi syariat islam. Untuk itu, bagi mereka yang selama ini menggunakan model dakwah budaya sosial dengan kekerasan, cara ini diyakini sebagai bentuk penegasan perlawanan mereka dalam melakukan kegiatan 'nahi munkar' yang berbasis syariah tersebut. Bahkan dalam perkembangannya, mereka sudah mengidentifikasi diri dalam sebuah persepsi komunalitas syariah secara eksklusif.

Dalam spektrum polemik kebudayaan islam, tidak saja melahirkan konflik sosial budaya pesisir itu sendiri, tetapi pada saat yang sama, ketika negara menghadapi delegitimasi sipil islam radikal ini, juga kehilangan jati diri kekuasaan untuk mendekonstruksi kekuatan sipil tersebut. Akibatnya, pelembagaan gerakan sipil islam radikal semakin menguat, bahkan secara ekaklusif membangun pilar struktural secara sistematik. Batapa masif gerakan internal mereka, mulai dari aktivitas masjid, lembaga pendidikan diniah hingga pesantren, yang seakan memberikan gambaran menguatnya embrio radikalisme islam pesisir.

Padahal kalau kita analisa secara mondial, beragamnya antar struktur sel gerakan islam radikal pesisir, ternyata memiliki relasi substruktural dan bersifat komplementer. Mereka semua berada dalam satu atap ideologi untuk membangun negara syariat islam. Bahkan Secara spesifik, mereka sudah membagi mekanisme peran dan fungsi antar organisasi. Ada sebagaian institusi yang berperan melakukan dakwah sosial yang bersifat konfrontatif, ada yang mengembangkan sayap ideologis melalui jalur pendidikan dan pengajian agama, bahkan ada yang bermetamorfosa dengan jaringan 'terorisme' skala luas. Hal ini bisa dilihat dari ekstensitas aktivisme mereka, karena dari data terakhir saja, sebagaian dari mereka, secara personal, memiliki kaitan langsung dengan gerakan radikalitas islam daerah lain, seperti Poso maupun jaringan Sumatera.***

No comments:

Post a Comment