Ada yang menarik dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke 9 the Wahid
Institute kemarin. Karena tanpa diduga, ditengah para tokoh nasional
yang hadir, Mantan Ibu Negara, Siti Nuriyah istri Gus Dur, secara
spontan memberikan dan menyematkan Kopyah Gus Dur pada Jokowi.
Pemandangan ini tentu berbeda dengan polemik politik dalam minggu terakhir ini, yang mengetengahkan kritik politik Amin
Rais terhadap Jokowi. Bahkan dengan tegas, Amin yang memberikan kuliah
umum dihadapan Civitas Akademika Univeraitas Diponegoro Semaranag,
menghimbau mahasiswa tidak memilih Jokowi dalam Pilpres mendatang. Amin
Rais mengasosiasikan Jokowi dengan Estrada, mantan Presiden Philipina
yang digulingkan Aroyo. Kesamaan itu menurut Amin, keduanya naik kasta
hanya bertumpu pada popularitas, bukan prestasi kinerja.
Tapi
persepsi Amin itu berbeda dengan pandangan keluarga besar Gus Dur
terhadap figur Jokowi. Karena bagi keluarga Gus Dur, dengan memberikan
peci warisan Gus Dur pada Jokowi, seorang tokoh 'democration on the
streets ini, berarti adanya penegasan legitimasi kultural dukungan
politik keluarga besar Gus Dur terhadap Jokowi menjelang kontestasi
politik pemilihan presiden yang akan datang, 2014.
Kalau kita
telusuri dari akar budaya kekuasaan politik, apa sih tafsir kopyah Gus
Dur itu?. Kopyah, atau peci Gus Dur bisa bermakna relasi kultural.
Kopyah seorang Kyai. Dalam konteks ini, akan menegaskan hubungan Jokowi
dengan Gua Dur, menjadi hubungan santri dengan kyai. Tetapi dalam bahasa
politik, apa yang dilakukan Siti Nuriyah Wahid, bisa berarti menjadi
simbol dukungan politik. Bahasa dukungan politik disini, tidak sekedar
bermakna formal, tapi juga mengandung makna hikayat kebudayaan. Karena
bagaimanapun, Gus Dur pernah menjadi bagian dari pemegang mandat
kekuasaan negara, seorang presiden, maka kopyah itu bisa menjadi
personifikasi budaya pewarisan spiritual kekuasaan.
Karena dari
perjalanan budaya politik Jokowi, ada juga yang menafsirkan, bahwa
Jokowi memiliki kesamaan kultur politik dengan Gus Dur. Kalau Gus Dur
punya idiom 'gitu aja kok repot' dan 'emang gue pikirin', Jokowi juga
punya idiom, 'tidak mikir, tidak mikir', setiap ditanya elektabilitas,
atau bilang 'tugas saya hanya kerja menyelesaikan masalah jakarta'. Tapi
yang jelas, keduanya memiliki kekuatan budaya demokrasi altetnatif,
yang lebih orisinil, dalam menjalankan fungsi politik kekuasaan.***
No comments:
Post a Comment