Friday, September 27, 2013

KOPYAH GUS DUR

Ada yang menarik dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke 9 the Wahid Institute kemarin. Karena tanpa diduga, ditengah para tokoh nasional yang hadir, Mantan Ibu Negara, Siti Nuriyah istri Gus Dur, secara spontan memberikan dan menyematkan Kopyah Gus Dur pada Jokowi.

Pemandangan ini tentu berbeda dengan polemik politik dalam minggu terakhir ini, yang mengetengahkan kritik politik Amin Rais terhadap Jokowi. Bahkan dengan tegas, Amin yang memberikan kuliah umum dihadapan Civitas Akademika Univeraitas Diponegoro Semaranag, menghimbau mahasiswa tidak memilih Jokowi dalam Pilpres mendatang. Amin Rais mengasosiasikan Jokowi dengan Estrada, mantan Presiden Philipina yang digulingkan Aroyo. Kesamaan itu menurut Amin, keduanya naik kasta hanya bertumpu pada popularitas, bukan prestasi kinerja.

Tapi persepsi Amin itu berbeda dengan pandangan keluarga besar Gus Dur terhadap figur Jokowi. Karena bagi keluarga Gus Dur, dengan memberikan peci warisan Gus Dur pada Jokowi, seorang tokoh 'democration on the streets ini, berarti adanya penegasan legitimasi kultural dukungan politik keluarga besar Gus Dur terhadap Jokowi menjelang kontestasi politik pemilihan presiden yang akan datang, 2014.

Kalau kita telusuri dari akar budaya kekuasaan politik, apa sih tafsir kopyah Gus Dur itu?. Kopyah, atau peci Gus Dur bisa bermakna relasi kultural. Kopyah seorang Kyai. Dalam konteks ini, akan menegaskan hubungan Jokowi dengan Gua Dur, menjadi hubungan santri dengan kyai. Tetapi dalam bahasa politik, apa yang dilakukan Siti Nuriyah Wahid, bisa berarti menjadi simbol dukungan politik. Bahasa dukungan politik disini, tidak sekedar bermakna formal, tapi juga mengandung makna hikayat kebudayaan. Karena bagaimanapun, Gus Dur pernah menjadi bagian dari pemegang mandat kekuasaan negara, seorang presiden, maka kopyah itu bisa menjadi personifikasi budaya pewarisan spiritual kekuasaan.

Karena dari perjalanan budaya politik Jokowi, ada juga yang menafsirkan, bahwa Jokowi memiliki kesamaan kultur politik dengan Gus Dur. Kalau Gus Dur punya idiom 'gitu aja kok repot' dan 'emang gue pikirin', Jokowi juga punya idiom, 'tidak mikir, tidak mikir', setiap ditanya elektabilitas, atau bilang 'tugas saya hanya kerja menyelesaikan masalah jakarta'. Tapi yang jelas, keduanya memiliki kekuatan budaya demokrasi altetnatif, yang lebih orisinil, dalam menjalankan fungsi politik kekuasaan.***

No comments:

Post a Comment