Proposal politik yang mengusung Jokowi sebagai calon presiden akan
menghadapi episode krusial. Problem krusial ini tidak lagi menyangkut
spekulasi matematik turunnya elektabilitas, tetapi terletak pada rumusan
yang mampu mengakomodasi komposisi faksional yang tumbuh dalam tradisi
politik kita.
Apalagi dalam konteks kepentingan politik negara, Jokowi harus mampu mengelaborasi 'market
politics' melalui isu-isu ekonomi makro serta isu politik global yang
berhubungan dengan kedaulatan pertahanan kawasan dan terorisme.
Padahal, pada sisi lain Jokowi juga dihadapkan pada persoalan dalam
negeri yang belum selesai. Mulai dari persoalan pertumbuhan ekonomi
domestik, kemiskinan, pengangguran, kesejahteraan sosial, diskriminasi
minoritas, hukum, korupsi, pendidikan, yang selama ini belum teratasi
secara fundamental.
Maka muncul berbagai spekulasi terhadap
Cawapres Jokowi. Secara tradisional kontestasi itu muncul antara faksi-
faksi Islam dan Militer. Khusus menghitung representasi kekuatan Islam,
meskipun dalam batas ideologi adalah illusif dan pragmatis, tetapi
faktanya selalu menjadi kalkulasi dan akumulasi politik kekuasaan
tersendiri.
Sementari dari kalangan militer sendiri, pasca SBY,
belum memiliki tokoh yang kuat dan representatif. Fakta ini bisa
dilihat dari akseptabilitas dan elektabilitas Pramono Edhie, Endiartono
Soetarto, Joko Suyanto, dan mungkin hanya Prabowo Soebiyakto yang
signifikan. Selain Prabowo, tokoh- tokoh militer yang ada masih jauh
popularitasnya dengan kekuatan sipil.
Belum lagi problem
tradisi hegemoni dalam militer, tentu akan menjadi resistensi 'conflict
of interest' bagi Jokowi. Maka isu yang berkembang hadirnya wacana
kekuatan polirik islam, seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD, Hatta Rajasa,
dan Yusril Ihza Mahendra itu rasional.
Maka mempertimbangkan
pakem politik Megawati, suka atau tidak dia akan menjadi 'decition
maker' dalam menentukan pendamping Jokowi, apalagi irama kebijakan
politik Jokowi sendiri yang bersifat fundamental dalam menyelesaiakan
persoalan domestik, maka akan cenderung pada pilihan kekuatan 'sipil
islam' tradisional.
Arah politik ini bisa dilihat dari
keputusan Megawati ketika berdampingan dengan Hamzah Haz dan Hasyim
Muxadi. Kalau asumsi politik ini benar, berarti figur Cawaprea Jokowi
yang lebih mendekati kalkulasi dan representasi itu adalah Mahfud MD dan
Yusuf Kalla. ***
No comments:
Post a Comment