Wednesday, March 19, 2014

"DILEMA JOKOWI "

Proposal politik yang mengusung Jokowi sebagai calon presiden akan menghadapi episode krusial. Problem krusial ini tidak lagi menyangkut spekulasi matematik turunnya elektabilitas, tetapi terletak pada rumusan yang mampu mengakomodasi komposisi faksional yang tumbuh dalam tradisi politik kita.

Apalagi dalam konteks kepentingan politik negara, Jokowi harus mampu mengelaborasi 'market politics' melalui isu-isu ekonomi makro serta isu politik global yang berhubungan dengan kedaulatan pertahanan kawasan dan terorisme.

Padahal, pada sisi lain Jokowi juga dihadapkan pada persoalan dalam negeri yang belum selesai. Mulai dari persoalan pertumbuhan ekonomi domestik, kemiskinan, pengangguran, kesejahteraan sosial, diskriminasi minoritas, hukum, korupsi, pendidikan, yang selama ini belum teratasi secara fundamental.

Maka muncul berbagai spekulasi terhadap Cawapres Jokowi. Secara tradisional kontestasi itu muncul antara faksi- faksi Islam dan Militer. Khusus menghitung representasi kekuatan Islam, meskipun dalam batas ideologi adalah illusif dan pragmatis, tetapi faktanya selalu menjadi kalkulasi dan akumulasi politik kekuasaan tersendiri.

Sementari dari kalangan militer sendiri, pasca SBY, belum memiliki tokoh yang kuat dan representatif. Fakta ini bisa dilihat dari akseptabilitas dan elektabilitas Pramono Edhie, Endiartono Soetarto, Joko Suyanto, dan mungkin hanya Prabowo Soebiyakto yang signifikan. Selain Prabowo, tokoh- tokoh militer yang ada masih jauh popularitasnya dengan kekuatan sipil.

Belum lagi problem tradisi hegemoni dalam militer, tentu akan menjadi resistensi 'conflict of interest' bagi Jokowi. Maka isu yang berkembang hadirnya wacana kekuatan polirik islam, seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD, Hatta Rajasa, dan Yusril Ihza Mahendra itu rasional.

Maka mempertimbangkan pakem politik Megawati, suka atau tidak dia akan menjadi 'decition maker' dalam menentukan pendamping Jokowi, apalagi irama kebijakan politik Jokowi sendiri yang bersifat fundamental dalam menyelesaiakan persoalan domestik, maka akan cenderung pada pilihan kekuatan 'sipil islam' tradisional.

Arah politik ini bisa dilihat dari keputusan Megawati ketika berdampingan dengan Hamzah Haz dan Hasyim Muxadi. Kalau asumsi politik ini benar, berarti figur Cawaprea Jokowi yang lebih mendekati kalkulasi dan representasi itu adalah Mahfud MD dan Yusuf Kalla. ***

No comments:

Post a Comment