Monday, March 17, 2014

"METAFOR SABDO PANDITO RATU DAN HIKAYAT SATRIO PININGIT DALAM TRADISI DEMOKRASI".

Ketika budaya politik masih dalam himpitan kuasa tradisi 'paguyuban', istilah 'sabdo pandito ratu' masih menjadi otoritas absolut priyayi, yang merupakan simbol penguasa dalam struktur maupun kultur sosial politik.

Tapi, seiring berubahnya pranata sosial politik yang menjelma dalam masyarakat 'petembayan', apalagi dalam balutan nilai budaya demokrasi, otoritas tunggal yang melembagakan 'monarchisme' sosial politik itu, telah berwujud dan bergeser dalam kedaulatan politik publik.

Setidaknya, titik balik dari budaya 'paguyuban' menuju 'patembayan' telah melahirkan konvergensi ekletik yang seimbang antara keniscayaan struktural dan kultural dalam budaya politik kekuasaan yang dinamis.

Pergeseran budaya politik ini bisa dilihat dari sisi lain dalam kasus Jokowi ketika dinobatkan menjadi kandidat presiden dari PDIP.

Sosok Jokowi sangat tidak signifikan dalam relasi struktur partai yag berhaluan Nasionalis-Soekarnois tersebut. Selain dia bukan dari kekuatan elit struktur partai, dia juga bukan dari lingkaran 'trah' Soekarno. Tapi faktanya, dia mampu menjungkir balikkan semua argumentasi dan logika politik tradisional itu.

Bahkan, secara tersirat Jokowi memainkan langgam transisional dalam melakukan gerakan metamorfosa regenerasi politik secara damai dan elegan. Dia mampu lolos dari jebakan-jebakan pragmatisme kekuatan elit internal Parpol. Boleh jadi, dia menyadari akan dirinya yang mewujud sebagai 'Ken Arok' dalam alam tradisi demokrasi egaliter, 'suara rakyat suara tuhan'.

Tapi yang jelas, 'sabdo pandito ratu' itu telah memberikan mandat pada 'satrio piningit', seorang Jokowi, yang lahir dan tumbuh dari gagasan, harapan, dan keinginan publik melaui media dan saintifikasi elektabilitas personal.

Terlepas dari apapun bentuk 'pro-kontra' dinamika politik ini, pasti hanya akan berakhir pada kanalisasi proses perebutan untuk menjadi pendamping Jokowi. Tidak lebih dari itu. Karena bagi Jokowi, 'topo broto dadar mongso' itu telah berakhir setelah mendapatkan 'serat kuoso' dari jelmaan 'sang pandito ratu' itu sendiri.***

No comments:

Post a Comment