Friday, March 21, 2014

"ENEMY OF THE STATE/MAS MH 370".

Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 tidak saja telah menimbulkan banyak spekulasi. Mulai 'human error', pembajakan, sabotase, hingga aksi terorisme. Tapi hingga saat ini belum ada kerangka teori yang tepat untuk dijadikan asumsi investigasi.

Bahkan pada perkembangannya semakin meluas pada area politik yang sensitif. Mulai penelusuran keterkaitan pilot, Zahrie Ahmad Shah, dengan aktivitas politik oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, maupun dengan jaringan kelompok islam radikal. Pada gilirannya, ditengah pemahaman fenomena rumit ini, pemerintah Malaysia menarik teori konspirasi antar negara yang melibatkan tuduhan pada Indonesia bersama negara-negara barat menjadi bagian penting dalam skenario ini.

Memang peristiwa hilangnya MAS MH370 ini tingkat kerumitannya menyerupai narasi film 'Enemy Of the State'. Film produksi Hollywood tahun 1998, yang dibintangi Will Smith, yang memerankan sebagai seorang pengacara, Robert Dean, dan Jon Voight sebagai Thomas Brin Renold, yang dalam operasi intelejennya melibatkan National Security Agency (NSA). Meskipun operasi itu didukung oleh peralatan tehnologi yang mutakhir, tapi hanya untuk menangkap seorang Robert Dean juga mengalami kegagalan fatal.

Kalau peristiwa hilangnya MAS MH370 dilihat dari paradigma 'Enemy Of the State' tentu ada mata rantai konspirasi besar yang ikut barmain. Dan jika asumsi ini benar, maka fsnomena MAS MH370 akan lebih rumit dibandingkan skenario politik dalam film 'Enemy Of the State' itu sendiri. Sementar itu, manuver beberapa negara yang ikut terlibat dalam proses pencarian itu hanya bagian dari permainan itu sendiri.

Secara imajinatif, peristiwa MAS MH370 memiliki korelasi dengan pergeseran politik global. Gagalnya barat mengendalikan stabilitas politik hegemoni di Negara-Negara Timur Tengah dan Kawasan Asia Barat memaksa haluan untuk mengendalikan pasar ekonomi Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Karena dominasi kekuatan China di kawasan terssbut, maka barat mencari celah untuk membangun konspirasi sistemik dalam pengendalian keamanan regional.

Sementara Malaysia adalah menjadi negara yang sangat penting bagi pengendalian kekuatan ekonomi China di Asia Tenggara. Apalagi Malaysia sendiri saat ini menghadapi masalah transisi politik demokrasi dengan kekuatan oposisi dibawah pimpinan Anwar Ibrahim. Kelihatannya, Malaysia akan menghadapi persoalan perubahan politik dari peristiwa MH370 ini. Fakta ini akan berubah jika Pemerintah Najib Razak melakukan perubahan kebijakan politik ekonomi atas China dan mampu mengakomodasi kepentingan ekonomi negara-negara barat.

Kalau tidak, nasib politik Najib akan seperti Presiden Gus Dur, yang melawan kepentingan Amerika masuk secara masif di kawasan Asia Tenggara. Bahkan secara radikal Gus Dur menggandeng China masuk terlibat dalam rencana pembentukan Pakta Pertahanan Asia Pasifik, dengan salah satu agendanya menolak pendirian pangkalan militer sekutu Amerika di Timor Leste, yang digunakan untuk mengawasi pergerakan dominasi ekonomi China di Asia Tenggara.***

No comments:

Post a Comment