Anggap saja dalam data statiatik jumlah penduduk kita berkisar 250 Juta Jiwa. Sementara jumlah pemeluk agama Islam berkisar 80% dari jumlah tersebut. Maka secara simbolik maupun ideologis, akan berkonstribusi secara linier dengan kekuatan beberapa partai politik yang berhaluan dan memiliki akar budaya masyarakat islam.
Bandingkan dengan beberapa data statistik dari berbagai lembaga survey maupun dengan pengalaman politik Indoneaia dalam perspektif politik Islam ini.
Sejarah politik pemilu, sejak tahun 1955 masa orde lama, maupun pemilu masa orde baru, sekaligus pemilu pada masa era reformasi, tidak pernah menempatkan posisi politik berhaluan islam memiliki dukungan suara signifikan. Sejarah hadirnya Masyumi seja, sebagai kekuatan tunggal Parpol yang berideologi islam tidak mampu membendung kekuatan politik partai yang bercorak nasionalis.
Konstanta persepsi demikian, kelihatannya juga akan terjadi dalam pemilu 2014. Jika kita rumuskan dari berbagai hasil survey terakhir, kisaran perolehan suara partai nasionalis, PDIP dan GOLKAR, antara 19%-25%. Pada posisi papan tengah juga masih didominasi partai nasionali, DEMOKRAT, NASDEM, GERINDRA, antara 5%-7%. Sementara posisi partai islam, PKB, PAN, PKS, PBB, masih dibawah 5%.
Potret ini menggambarkan adanya polarisasi persepsi antara relasi islam dengan politik maupun budaya, Dalam konteks polaritas ini, persepsi politik publik islam telah melampaui batas argumentasinya sendiri. Meskipun, pada aspek psikologi budaya mereka belum tentu mau dikatakan mengikuti haluan politik sekuler.
Pemaparan fakta-fakta politik diatas, hanya sekedar umruk menguji kembali kebenaran argumentasi Cak Nur tentang proyek sekularitas politik dalam tradisi demokrasi. Pernyataan Cak Nur, 'Islam Yes, Partai Islam No' dan lebih mengedepankan prinsip rasional ketimbang ikatan emosional sekarang menjadi kebenaran budaya politik. Terlepas dalam pergeseran ini juga masih membutuhkan waktu panjang dalam proses pendewasaan budaya politik.***
No comments:
Post a Comment